Language | Indonesian | English Search
 
Catatan dari APRCC ke-10 di Kuala Lumpur
Nov 19, 2007

Catatan dari APRCC ke-10 & ASEAN CIC Boards of Director’s Meeting & Conference ke-35 di Kuala Lumpur

  • Masih banyak tantangan untuk implementasi Responsible Care®
  • Selain GHS, industri kimia dan eksportir ke EU perlu memahami REACH.

KN-RCI News, KL (Nov 2007). Asia Pacific Responsible Care® Organization—wadah organisasi industri kimia di kawasan Asia Pasifik, telah mengadakan Asia Pacific Responsible Care® Conference di Kuala Lumpur Malaysia, pada tanggal 12 – 13 November 2007. Indonesia yang menjadi salah satu anggotanya, terlibat aktif dalam pertemuan tersebut melalui Komite Nasional Responsible Care Indonesia (KN-RCI).

Pada konferensi tahun ini topik yang dibahas adalah: “Responsible Care®: A New Focus”. Pembahasan lebih mengedepankan permasalahan dan tantangan-tantangan dalam penerapan Responsible Care®, sesuai dengan relevansinya terhadap manajemen global – kimia dan peranannya di industri kimia. APRCC 2007 juga membahas mengenai implementasi dari Product Stewardship di dalam industri kimia.

APRCC kali ini dihadiri tak kurang dari 250 delegasi lebih dari 15 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Australia, Amerika, Jepang, Korea, Vietnam, Philippines, Taiwan, Singapore, Thailand, Myanmar, Malta, Pakistan, India dan China, juga undangan dari Uni Eropa. Delegasi Indonesia termasuk yang terbesar, ada 17 peserta dari berbagai perusahaan anggota KN-RCI. Ini merupakan kali yang ke-2 setelah APRCC di Tokyo tahun 1997, tercatat 15 orang delegasi Indonesia.

Dalam kata sambutannya pada hari pertama konferensi tersebut, Dr. A Hapiz Abdullah, Chairman of Asia – Pacific Responsible Care Conference mengatakan bahwa di era millenium ini, kesadaran para pelaku di industri kimia dalam mengimplementasikan Responsible Care sudah semakin tinggi. Kata kuncinya adalah ‘sustainable growth’ dimana bila ingin langgeng atau mencapai pertumubuhan yang berkesinambungan, pelaku industri kimia harus menjalankan usahanya sesuai dengan kaidah dan norma-norma sesuai prinsip Responsible Care®.

Timbalan PM Malaysia, YAB Dato’ Sri Mohn Najib  membuka secara resmi APRCC ke-10 dan ASEAN CIC Conference, pada 13 Nov 2007 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Para pembicara utama dalam APRCC 2007 ini antara lain adalah Dr. Phil Lewis, MD. MPH, Chairman of Responsible Care® Leadership Group; Frank Moniaga, Chairman KN-RCI; Konoshin Fukuma, General Manager Japan Chemical Industry Association, Berry Dyer, Chief Executive New Zealand Chemical Industry Council, Datuk Mohd. Al Amin, Chairman Chemical Industry Council of Malaysia, dan beberapa pembicara lain dari perusahaan anggota Responsible Care yang dalam kesempatan ini membagikan pengalaman dan pengetahuannya dalam mengimplementasikan 6 kode manajemen praktis Responsible Care.

Najib Tun Razak, Timbalan Perdana Menteri Malaysia yang membuka secara resmi APRCC ke-10 dan ASEAN Chemical Industry Conference ke-35. Dalam Key Note Address nya, Timbalan Perdana Menteri mengatakan bahwa wilayah Asia-Pacific berada di tengah-tengah transformasi besar dari sebuah perkembangan industri. Kita harus memanfaatkan hal ini untuk menciptakan dan menggunakan tehnology dan proses kerja yang berkesinambungan. Tehnology dan proses kerja yang berkesinambungan ini harus mampu menjunjung inovasi, menghasilkan produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan masyarakat, menarik generasi selanjutnya untuk berkarya, berkontribusi terhadap lingkungan yang sustainable, dan mempertahankan kepercayaan dan dukungan dari konsumen, shareholder dan komunitas disekitar industri tersebut beroperasi.

Dalam Board Meeting & the 35th ASEAN CIC Conference, Indonesia diharapkan aktif kembali setelah beberapa kali non-active. Pada kesempatan ini diperkenalkan Bapak Ir. Hidayat Nyakman, Presiden Direktur PT Pupuk Kaltim sebagai “successor” untuk Chairman Indonesia Chemical Industry Council yang baru.

ASEAN Chemical Industry Council Boards of Director’s Meeting & Conference di KL Malaysia, 13-14Nov 2007 -  Indonesia sangat diharapkan untuk aktif kembali dalam forum ini.

Salah satu hasil ASEAN CIC Borads of Director’s meeting menetapkan bahwa giliran sebagai tuan rumah untuk ASEAN CIC Boards of Director’s Meeting & Conference yang akan dating, akan diadakan di Indonesia pada tahun 2009..

Salah satu topic dalam konferensi ASEAN CIC yang menarik dan perlu dicermati oleh industri kimia dan eksportir ke Eropa adalah ketentuan mengenai REACH. Di Indonesia sosialisasi mengenai hal ini masih sangat kurang dan perlu digalakkan, terutama untuk industri / produsen oleo chemical yang banyak mengekspor produknya ke Eropa. Demikian diungkapkan oleh Sekjen KN-RCI, Setyabudhi Zuber.

Hari pertama APRCC lebih banyak berbicara mengenai implementasi Responsible Care dan tantangan yang dihadapi di Negara-negara Asia Pacific. Seperti yang diketahui, Asia Pacific Responsible Care Organization terdiri dari 12 negara anggota yaitu Australia, Chia, India, Indonesia, Japan, Korea, Malaysia, New Zealand, the Philippines, Singapore, Taiwan dan Thailand.

Frank Moniaga, Chairman dari KN-RCI mengemukakan mengenai tantangan yang dihadapi oleh organisasi Responsible Care di tiap Negara. Menurutnya tantangan yang dihadapi antara lain:

  • Rendahnya pengakuan dari industri, dimana perusahaan yang mengimplementasikan Responsible Care masih didominasi oleh perusahaan multi nasional (MNC), dimana keikutsertaan Small-Medium Enterprise (SME) masih sedikit sekali.
  • Rendahnya keterlibatan pemerintah ditingkat regional maupun pusat
  • Proses verifikasi yang dilakukan oleh organisasi Responsible Care tidak begitu disukai
  • Rendahnya pelaporan key Performance Indicator
  • Permasalahan keuangan (iuran keanggotaan)
  • Tidak ada ketertarikan dari generasi muda terhadap Responsible Care.

Bila dinegara-negara seperti Indonesia dan Malaysia keanggotaan Responsible Care didominasi dan dipimpin oleh anggota MNC (multi national company), lain halnya di Jepang.

Dari Kiri ke kanan duduk, para Pimpinan organisasi Responsible Care Indonesia, Jepang dan Malaysia  bergambar usai jumpa  the 10th APRCC di KL, Malaysia, 12 Nov 2007.

Menurut Konoshin Fukuma, General Manager Japan Chemical Industry Association, perusahaan-perusahaan di Jepang seperti Mitsubishi Chemical, Mitsui, dan Sumitomo memegang kendali di organisasi Responsible Care. Hal ini tentunya sangat positif dan patut dicontoh negara lain.

Di Indonesia keanggotaan KN-RCI adalah sebanyak 70 an atau hanya sebesar 35% dari total pelaku industri kimia ditanah air. Menurut Frank Moniaga tantangan terbesar KN-RCI adalah menarik para SME untuk turut serta menerapkan prinsip-prinsip Responssible Care.

Dari kiri ke kanan, Dr. A. Hapiz Abdullah (CIC Malaysia), Dr. Phill P. Lewis (RCLG Chairman), Frank Moniaga (KN-RCI), K. Fukuma (JCIA-JRCC), Barry Dyer (ZCCIC). Pada hari pertama the 10th APRCC 2007

APRCC juga membahas mengenai Product Stewardship, dan mengenai pelaksanaan GHS (Globally Harmonized System) yang akan diterapkan secara global serentak pada akhir 2008. GHS adalah sistem klasifikasi bahan kimia yang berdasarkan potensi bahaya terhadap kesehatan, keselamatan dan lingkungan. Klasifikasi tersebut akan menggunakan sistem pe labellan standard yang akan berlaku secara internasional. Negara-negara di Asia Pacific melalui organisasi Responsible Care telah melakukan sosialisasi berupa pelatihan-pelatihan. Di indonesia sendiri, KN-RCI telah melakukan training GHS dalam rangka menskomunikasikan sistem global tersebut. Di Jepang, GHS sudah mulai diterapkan secara bertahap. Menurut Hiroshi Jonai, expert dari UN SCEGHS, semua pihak harus secara aktif melakukan sosialisi GHS dengan memberi pelatihan kepada kontraktor, karyawan, dll. Di Japan sendiri menurutnya seminar-seminar GHS telah dilakukan dan telah dihadiri sebanyak 5000 an peserta. Dukungan pemerintah lokal dalam penerapan GHS tentunya sangat diharapkan.

Di Indonesia sendiri menurut Frank Moniaga, sosialisasi GHS telah dilakukan sejak dua tahun belakangan ini melalui training yang diikuti oleh umumnya oleh anggota KN-RCI. Beliau berharap pada tahun 2008 sosialisasi dapat lebih gencar dilaksanakan untuk menyongsong pelaksanaan pada akhir 2008. Saat ini ada 11 Instruktur GHS yang bersertifikat dan mengikuti pelatihan di AOTS Jepang. Lebih dari 40 orang yang telah menyelesaikan GHS workshop advance level yang diadakan di di Indonesia atas prakarsa KN-RCI sendiri maupun dibantu

Debbie Jackson dari majalah CareLine (no. 5 dari kiri) berfoto bersama delegasi Indonesia sesaat usai konferensi APRC ke-10 di KL, Malaysia.

oleh Jetro dan AOTS. Sosialisasi GHS telah diadakan dan akan dilanjutkan oleh Departemen Perindustrian, Perhubungan, Perdagangan, Badan POM dll (JN, SZ).


You are visitor number:
countercountercountercountercounter